gambar





SHALOM!!! MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI DI GKRI JEMAAT HIDUP BARU!!!

 

 

TODAY'S SCRIPTURE
2016-01-05

Roma  4:2-3  

 

"  Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak dihadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."

 

 

ARTICLES

 

COUNSELING

 

PREACHING


Support 01:
Support 02:
 
JOIN US

KAMPUS
STT Lintas Budaya Jakarta

Untitled Document

Apakah ‘Yesus’ sudah cukup?
Oleh Sarah Salestine

Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi merupakan kunci untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Namun, apakah seorang yang telah percaya kemudian jatuh kembali ke dalam dosa dapat masuk ke dalam sorga? Atau apabila seorang pembunuh yang telah bertobat, namun kembali membunuh dapat mendapat bagian dalam Kerajaan Allah?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya lebih dahulu menjelaskan tentang ‘Pengudusan’. Dalam teologi, istilah ‘Pengudusan’ dikenal dengan dua istilah yang memiliki arti yang berbeda, yaitu (1) Positional Sanctification (Pengudusan Posisi) dan (2) Progressive Sanctification (Pengudusan yang progresif). Kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda namun berkesinambungan.

(1). Positional Sanctification
Pengudusan posisi ini dapat diterima oleh semua orang asalkan mereka percaya dan menerima Yesus Kristus (yang telah disalibkan, mati dan bangkit untuk menyelamatkan setiap orang) sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Ketika seseorang yang belum percaya mengakui dengan mulutnya Yesus sebagai Tuhan dan percaya dalam hatinya bahwa Allah telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati, maka saat itu juga orang tersebut diselamatkan (Roma 9:9-10). Kepastian keselamatan telah diterima oleh orang yang percaya. Ketika orang menjadi percaya, ketika itu juga orang tersebut menjadi ciptaan yang baru (2 Kor. 5:17), ia dipindahkan dari kegelapan kepada terang Tuhan (1 Pet. 2:9, Ef. 5:8). Saat itu juga orang percaya menjadi ‘KUDUS’ sebab ia telah menerima pengudusan yang telah Yesus lakukan. Status orang percaya tidak lagi ‘berdosa’, namun ‘kudus’, bukan karena ia telah melakukan hal-hal yang benar, namun karena telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang telah mengangkat manusia dari keberadaan dosa dan telah melakukan segala hal yang benar dan menjadi penyelamat tunggal manusia. Allah Bapa tidak lagi melihat apa yang diperbuat oleh orang tersebut, namun Ia melihat Kristus yang telah menjadi korban yang sempurna untuk menebus salah, menghapus dosa, menyelamatan atau yang secara ringkas dapat dikatakan sebagai ‘Pendamai’ antara Allah dan manusia. Apa yang Yesus kerjakan yang selalu dilihat oleh Allah Bapa, tidak lagi apa yang manusia perbuat. Orang percaya telah menjadi kudus dan Roh Kudus akan selalu diam dan tinggal dalam hidupnya sebagai jaminan keselamatan bagi orang percaya (Ef. 1:13-14). Dengan demikian, orang percaya tidak lagi berada di bawah kuasa hukum dosa dan hukum maut tetapi telah merdeka (Roma 8:2), dan berada di dalam kasih karunia Tuhan. Jadi, ketika orang menjadi percaya dan menerima Yesus secara pribadi, maka status mereka telah berubah, dari ‘Orang Berdosa’ menjadi ‘Orang Benar’ karena telah dibenarkan oleh Darah Yesus dan menjadi anak-anak Allah. Kekudusan posisi ini diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang percaya kepada Yesus Kristus.

(2). Progressive Sanctification
Pengudusan yang progresif harus didahulukan dengan pengudusan posisi. Berbeda dengan positional sanctification, pengudusan yang progresif dapat terjadi dengan peran orang percaya. Tuhan berfirman dalam 1 Petrus 1:15-16, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kekudusan yang progresif merupakan kehendak Tuhan bagi manusia (Rom. 8:29). Allah ingin agar manusia yang telah dibenarkan, hidup semakin hari semakin serupa dengan Tuhan dan sempurna seperti-Nya.
Dalam mencapai kekudusan yang Tuhan inginkan, tentunya setiap orang percaya harus melalui berbagai proses dan ujian. Namun ujian itu ditujukan agar orang percaya menjadi sempurna (Yakobus 1:2-4). Tuhan sendiri pun telah menganugerahkan segala sesuatu kepada orang percaya yang berguna untuk hidup yang saleh (2 Petrus 1:3) dan manusia pun harus berusaha untuk hidup lebih baik lagi (2 Petrus 1:3-8). Dalam perjalan kekudusan, sangatlah mungkin apabila orang percaya melakukan kesalahan atau dosa lagi, namun tidaklah perlu kuatir, sebab Tuhan telah memberikan kemurahan-Nya bagi orang percaya, yaitu pengampunan-Nya yang sempurna. Apabila orang percaya berbuat dosa, minta ampunlah kepada Tuhan, maka mereka akan diampuni (1 Yohanes 1:9). Namun, perlu diingat bahwa orang percaya tidak lagi dikuasai oleh dosa, sehingga orang percaya pun dapat untuk tidak berbuat dosa dan dapat selalu berbuat kebenaran dan meningkatkan iman mereka dalam Tuhan sehingga dapat semakin sempurna seperti Allah yang adalah sempurna.


Kembali ke pertanyaan awal, apabila orang percaya jatuh kembali ke dalam dosa, maka apabila orang percaya tersebut datang dan meminta pengampunan kepada Tuhaa, maka Ia akan mengampuninya dan namanya tetap terdaftar dalam kitab kehidupan dalam kerajaan Sorga. Yesus adalah cukup bagi seseorang yang ingin menerima keselamatan dan hidup yang baru dalam Tuhan, namun untuk menjadi sempurna seperti yang Tuhan inginkan, diperlukan kemauan dan aksi dari orang percaya untuk dapat menggenapinya.

Copyright @ GKRI Jemaat Hidup Baru 2012