gambar





SHALOM!!! MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI DI GKRI JEMAAT HIDUP BARU!!!

 

 

TODAY'S SCRIPTURE
2016-01-05

Roma  4:2-3  

 

"  Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak dihadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."

 

 

ARTICLES

 

COUNSELING

 

PREACHING


Support 01:
Support 02:
 
JOIN US

KAMPUS
STT Lintas Budaya Jakarta

Untitled Document

Karya Allah Bagi Keselamatan Kita (Bag. I)

Karya Allah Bagi Keselamatan Kita (Bag. I) Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th Keselamatan dibutuhkan oleh setiap manusia karena semua manusia sudah melakukan dosa (Rm.3:23-24). Keselamatan yang dimaksudkan di sini adalah keselamatan yang bersifat rohaniah. Selamat berarti tidak mengalami penyiksaan kekal atau kebinasaan di neraka sebagai hukuman atas dosa. Keselamatan yang demikian tidak dapat dikerjakan oleh diri manusia sendiri, melainkan membutuhkan pihak lain yang sanggup melakukannya, dalam hal ini adalah Allah. Hanya Allah yang dapat berkarya bagi keselamatan manusia. Berbagai karya Allah tersebut tercatat dalam Alkitab dan dapat kita ditelusuri. Secara umum, karya Allah bagi keselamatan manusia dapat dibagi ke dalam lima tahap, yakni: (1) mengadakan penyelamatan; (2) menginsyafkan pelanggaran; (3) mendorong pengakuan; (4) mengerjakan pembaharuan; dan (5) memeteraikan pengakuan. Pertama, Allah mengadakan penyelamatan melalui diri Anak-Nya Yesus Kristus. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Manusia memang sudah mengusahakan berbagai hal dan menggunakan berbagai cara, yang pada awalnya mereka anggap dapat menyelamatkan mereka. Namun, sampai sejauh ini, tidak satupun dari berbagai hal dan cara itu yang dapat membawa manusia kepada keselamatan, malahan justru dapat membuat mereka semakin jauh dari keselamatan. Salah satu hal dan cara yang dimaksud adalah ritualisme keagamaan (agama). Manusia di sepanjang masa pada awalnya berprasangka bahwa agama dapat menyelamatkan mereka, namun ternyata agama tidak dapat menyelamatkan. Agama memang dibutuhkan oleh manusia, namun bukan sebagai jalan keselamatan melainkan hanya sebagai penuntun hidup bermoral. Ketidakmampuan manusia menyelamatkan dirinya sendiri membuat Allah berpikir keras untuk menolong mereka. Injil Yohanes 3:16-17 berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Ungkapan ‘Ia mengaruniakan’ menunjuk kepada kebaikan Allah. Maksudnya, Allah mengadakan penyelamatan secara sengaja dan tanpa pamrih. Hal ini didorong oleh kasih-Nya yang sangat besar. Besarnya kasih Allah terhadap manusia dilatarbelakangi oleh karena manusia adalah ciptaan Allah. Disebut sebagai ‘Anak-Nya yang tunggal’ adalah untuk menegaskan bahwa jumlah dan bentuk dari Juruselamat tersebut adalah ‘satu’ atau ‘esa’. Artinya, Juruselamat manusia yang disediakan Allah itu tidak lebih dari satu (hanya satu adanya), tidak bersifat kembar, juga tidak ada yang mirip dengan-Nya. Anak Allah yang ditentukan-Nya untuk menyelamatkan manusia itu datang menjadi manusia. Adalah Yusuf dan Maria yang dipilih-Nya untuk melahirkan-Nya. Pada awalnya, karena kebingungan melihat Maria mengandung bukan dari benihnya, Yusuf hendak menceraikannya secara diam-diam. “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Mat. 1:20-21). Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka, harus mati dengan cara digantung di atas kayu salib. Sebelum mati, Ia hidup sebagai manusia biasa. Ia yang sangat giat mengadakan pelayanan bagi sebanyak-banyak orang, dengan cara mengajarkan kebenaran, menegakkan keadilan, mengadakan penyembuhan, dan mengadakan banyak mujizat lainnya. Hingga kira-kira berumur 33 ½ tahun, Ia pun disalibkan. Perlu diketahui bahwa pada masa itu, seseorang yang disalibkan adalah seorang yang dianggap terkutuk. Darah-Nya tercurah dan Ia mati secara mengenaskan setelah disiksa dan dipermalukan. Semua pihak yang berkedudukan tinggi dan berwenang menginterogasi dan mengadili-Nya, hanya untuk mencari kesalahan-Nya. Bahkan saksi-saksi palsu pun sudah didatangkan. Namun, tidak satu pun dari tuduhan atau dakwaan yang diberikan dapat menjerat-Nya. Sehingga, kematian-Nya pun terjadi bukan karena Ia bersalah tetapi karena dipaksa untuk disiksa oleh orang-orang Yahudi yang tidak memahami siapa diri-Nya. Namun Yesus Kristus tidak pernah mengeluh atas hal itu karena Ia tahu bahwa untuk itulah Ia datang ke dalam dunia ini. Kematian tersebut adalah kematian karena dosa-dosa umat manusia; dosa manusialah yang ditanggungnya. Kedua, Allah menginsyafkan manusia atas segala pelanggaran mereka. Manusia yang sudah hidup dalam dosa atau terbiasa melakukan dosa sudah sering lupa akan keberadaan dosanya. Untuk itu dibutuhkan suatu pribadi yang dapat mengingatkan atau menginsyafkan mereka atas berbagai dosa itu. Siapakah pihak yang dapat melakukan hal itu? Tentunya bukanlah diri manusia itu sendiri. Karena, bagaimana mungkin seseorang yang melakukan dosa menginsyafkan dirinya sendiri akan dosa yang diperbuatnya? Hal itu tidak mungkin terjadi. Selanjutnya, ada yang menganggap bahwa tugas ini dapat dilakukan oleh hati nurani. Pada mulanya hati nurani memang sesuatu yang berfungsi untuk menginsyafkan manusia dari dosa mereka. Namun, fungsi hati nurani ini sudah semakin rendah kualitasnya karena berbagai pengalaman pahit, kebodohan, dan kebebalan manusia itu sendiri. Kini, hati nurani tidak dapat lagi dijadikan sebagai penasihat atau penginsyaf bagi manusia atas dosa-dosa mereka. Ada juga pihak yang mengandalkan manusia lain atau sesamanya untuk menginsyafkan dirinya akan dosa-dosanya. Hal ini pun akan sama tidak berhasilnya karena peringatan seseorang terhadap orang lain bersifat tidak lengkap dan tidak stabil. Penilaian seseorang terhadap orang lain juga dapat berlebihan (bias) dan kabur (absurb). Sebagai contoh: Anda dapat mengatakan bahwa saya salah dan menegur saya akan kesalahan saya tersebut, namun belum tentu saya mau mendengarnya karena saya tidak menyukai Anda, karena tidak mengenal Anda, atau karena Anda bukan seorang figur yang baik bagi saya, bukan? Sebaliknya, Anda dapat menegur saya secara salah atau tidak tepat karena Anda hanya berusaha untuk menyenangkan hati saya. Berbeda dengan beberapa hal di atas (yang dapat gagal menginsyafkan manusia akan dosa-dosa mereka), Roh Kudus adalah suatu Pribadi yang mau dan mampu menginsyafkan manusia akan dosa-dosa mereka. Yesus Kristus berkata dalam Injil Yohanes 16:8-11, demikian: “Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Roh Kudus senantiasa menginsyafkan manusia dari dosa-dosa mereka. Penginsyafan yang dilakukan oleh Roh Kudus sulit dilawan atau ditolak oleh manusia berdosa karena penginsyafan itu dilakukan-Nya dengan lembut dan berhikmat. Dengan adanya Roh Kudus yang menginsyafkannya, maka semakin terbuka kesempatan bagi mereka untuk mengakuinya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengakui dosa dan harus mereka yang melakukannya. Namun, kemampuan ini tidak akan bekerja secara efektif apabila mereka tidak terlebih dahulu diinsyafkan oleh Roh Kudus. Setelah manusia diinsyafkan, barulah manusia dapat mengakui dosanya sehingga mereka akhirnya menerima pengampunan, seperti pesan Surat I Yohanes 1:8-9: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pembahasan ini akan saya lanjutkan pada artikel saya selanjutnya.


Copyright @ GKRI Jemaat Hidup Baru 2012