gambar





SHALOM!!! MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI DI GKRI JEMAAT HIDUP BARU!!!

 

 

TODAY'S SCRIPTURE
2016-01-05

Roma  4:2-3  

 

"  Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak dihadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."

 

 

ARTICLES

 

COUNSELING

 

PREACHING


Support 01:
Support 02:
 
JOIN US

KAMPUS
STT Lintas Budaya Jakarta

Untitled Document

Hakikat dan Fungsi Agama secara Umum
Hakikat dan Fungsi Agama secara Umum
Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th




Tujuan dari tulisan ini adalah agar kita memahami keberadaan agam secara lebih komprehensif dan mendudukkannya secara proporsional. Agama muncul di tengah komunitas masyarakat sebagai pengalaman personal sekaligus sebagai paguyuban sosial yang melembaga. Pada tingkat personal, agama berkaitan dengan apa yang diimani oleh manusia secara pribadi, yakni bagaimana agama berfungsi dalam kehidupan manusia; bagaimana pengaruh agama pada apa yang manusia pikirkan, rasakan atau lakukan. Hal ini memang menyangkut aspek iman dan perilaku dari penganut suatu agama itu sendiri. Pada tingkat sosial, agama terlihat secara jelas pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan itu sendiri.
Mendefinisikan istilah agama tidaklah mudah, karena perlu mempertimbangkan siapa dan dari sudut pandang mana kita mendefinisikannya. Apakah dari sudut pandang teologi, psikologi, filsafat, sosiologi, antropologi atau segala disiplin ilmu yang berhubungan dengannya. Mendefinisikan agama sebagai sesuatu yang sulit karena dipengaruhi oleh etnosentrisme, sehingga menjadi rumit (kompleks). Etnosentrisme yang dimaksud di sini adalah di mana agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Dalam hal ini, banyak orang yang mendefinisikan agama sesuai dengan pengalamannya dan penghayatannya pada agama yang dianutnya. Sehingga, dapat dimaklumi bahwa setiap penganut agama memiliki definisi tentang agama yang dianutnya.
Menurut Mukti Ali, sebagai seorang Islam, misalnya, agama dipandang sebagai percaya akan adanya Tuhan Yang Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada utusan-utusan-Nya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Seorang Buddhis, mungkin dia akan menjawabnya berbeda, karena dalam segala bentuknya, mereka menolak eksistensi Khalik yang transenden, sehingga Buddhisme tidak memiliki doktrin tentang-Nya yang disusun secara sistematis-konseptual. Pada pihak lain, ada juga orang Kristen yang mengaku bahwa Kekristenan bukanlah suatu agama, melainkan sebagai bentuk penerapan dari berbagai ajaran dan keteladanan yang dibuat oleh Yesus Kristus. Orang Kristen yang demikian memahami bahwa Kristus turun ke bumi bukan untuk menciptakan agama, tetapi untuk menyatakan kasih dan pribadi Allah yang sesungguhnya. Alasan lainnya adalah karena bukan manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhanlah yang mencari manusia. Jadi, bagi mereka Kekristenan bukanlah suatu agama. Pemahaman ini dianut dalam rangka menentang pendefinisian agama sebagai suatu sarana bagi manusia untuk mencari dan menemukan Tuhan. Tentu saja pemahaman seperti ini tentang hakikat sebuah agama merupakan pendekatan yang bersifat substantif-etnosentris.
Selain sangat etnosentris, penulis memahami bahwa setiap definisi dari kata agama yang beredar selama ini tampak tidak komprehensif. Definisi-definisi yang beredar itu hanya menangkap sebagian dari realitas agama, karena memang sifat-sifat dari agama itu sendiri sangat kompleks, termasuk sudut pandang atau metodologi yang dapat dipergunakan untuk mendefinisikannya.
Pada artikel ini, agama akan didefinisikan menurut sosiologi agama, yakni definisi yang bersifat empiris. Adalah penting untuk diingat bahwa sosiologi tidak pernah memberikan definisi agama secara evaluatif. Sosiologi agama tidak menyangkut substansi agama secara doktrinal, namun memberikan definisi yang bersifat deskriptif (menggambarkan apa adanya), yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami pemeluk-pemeluknya.
Dalam kerangka sosiologi agama, kita dapat melihat agama melalui dua pendekatan, yakni pendekatan substantif dan pendekatan fungsional. Pendekatan substantif yang dimaksud di sini adalah apa yang diyakini atau dipercayai oleh individu dan/atau umat dari agamanya. Definisi ini menghubungkan agama dengan Tuhan atau konsep-konsep sejenis dengan itu. Apa saja yang dihubungkan dengan Tuhan atau dengan yang sakral, itulah yang disebut sebagai agama. Pendekatan fungsional adalah apa peranan agama dalam kehidupan personal dan masyarakat.
Aliran fungsionalisme mendefinisikan agama secara fungsional; ia memberikan sorotan tersendiri serta tekanan khusus atas apa yang ia lihat dari agama. Ia melihat agama dari fungsinya. Agama dipandang sebagai suatu institusi yang lain, yang mengemban tugas (fungsi) agar masyarakat berfungsi dengan baik, baik dalam lingkup lokal, regional, nasional maupun mondial. Maka dalam tinjauannya, yang dipentingkan ialah daya guna atau pengaruh suatu agama terhadap masyarakat, sehingga berkat eksistensi dan fungsi agama cita-cita masyakat (akan keadilan dan kedamaian, dan akan kesejahteraan jasmani dan rohani) dapat terwujud.
Pengalaman yang dijadikan landasan perumusan terhadap apa itu agama mencakup lapangan yang cukup luas, bermula dari persoalan yang menyangkut kehidupan manusia sehari-hari hingga masalah yang mengatasi keperluan hidup hingga sekarang ini yang tidak terjangkau oleh empiri atau yang supraempiri. Dengan kata lain, landasan perumusan itu ialah semua pengalaman yang menyangkut kebahagian manusia seutuhnya dan selengkapnya. Manusia mengalami problem yang fundamental ini. Ia siang malam diganggu oleh pertanyaan yang muncul dari pengalaman mengenai ketidakpastian hidup. Manusia juga mengalami ketidakmampuan (powerlessness) dan kelangkaan. Karena ketiga hal ini, manusia semakin menyadari akan kebutuhan suatu pegangan hidup, yang dinamakan agama.
Sekalipun orang-orang yang sering mengumbarkan ide-ide atheisme, misalnya seperti Nietsche, menganggap bahwa agama akan segera runtuh di zaman modern karena datangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dirasa dapat menyelesaikan permasalahan hidup manusia, tokh semua permasalahan hidup manusia tidak dapat terjawab. Sebaliknya, tanpa agama, manusia belum sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental yang selalu mengganggu dan menghantuinya. Mengapa ada penyakit? Mengapa manusia harus mati? Mengapa si pemuda belia yang tercinta meninggal? Mengapa terjadi musibah yang mengerikan (puluhan korban jiwa akibat tanah longsor, gunung meletus, atau jembatan musnah dihancurkan badai tofan, dsb). Persoalan semacam itu belum terjawab. Apalagi pertanyaan: apa itu semua ada artinya bagi manusia umumnya? Dengan kata lain, manusia dihadapkan dengan problem “makna dan arti” yang ada di belakang semua kejadian itu. Suatu permasalahan hidup yang sifatnya transendental. Ternyata akibat keterbatasannya, manusia tidak/belum sanggup menjawab semuanya. Lalu, ia harus lari ke mana untuk mencapai jawaban itu? Kalau ia (manusia) tidak menginginkan kemusnahannya pada “titik hancur” ini – dan pengalaman membuktikan bahwa tak seorang pun menghendakinya – maka ia dipaksa untuk mencari kekuatan lain “yang ada di luar” dunia ini. Inilah hakikat agama dari pendekatan fungsionalisme.
Di samping rasa kecewa (frustrasi) yang bertubi-tubi dialami oleh manusia, mereka masih perhadapkan dengan masalah yang laini, yaitu kelangkaan – kemiskinan – dan penderitaan. Masalah tersebut hingga dewasa ini harus diakui masih merupakan masalah yang belum terjawab, bukan saja oleh bangsa yang belum berkembang tetapi juga oleh bangsa yang sudah maju dalam sistem sosialnya. Masalah ini dapat juga dikembalikan kepada perihal keterbatasan kemampuan manusia, yang dalam penanganannya memang telah menimbulkan kesulitan tersendiri. Permasalahan ini sering disebut sebagai masalah ekonomi-sosial. Kalau diringkaskan, masalah yang dihadapi manusia itu adalah ketidakpastian, ketidakmampuan dan kelangkaan. Ini semua membuat hidup ini mengalami suatu frustrasi (kekecewaan) yang mendalam, atau dengan kata lain penderitaan lahir dan batin. Berbagai masalah seperti inilah yang diharapkan dapat dihadapi dengan tegar dan kiranya terselesaikan dengan tuntas berkat keberadaan agama dalam kehidupan manusia. Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya mengenai Peranan Agama sebagai Kontrol Sosial.



















Copyright @ GKRI Jemaat Hidup Baru 2012